3 Point Award Photo Exhibition & Annual Program Description







3 Point Award Photo Exhibition :

Opening : Saturday 8th October 2011
at 19.00 HRS
venue : Kelas Pagi Yogyakarta
Jl. Brig Jend Katamso - Prawirodirjan GM II /1226
Yogyakarta

Exhibition :
9th October to 31 October 2011
at 09.00 to 21.00HRS

Artist Conversation :
Monday 10th October 2011 at 16.00 HRS

Brief location map : http://kelaspagiyogyakarta.blogspot.com/2011/04/denah-lokasi-kpy.html

Facebook event invitation : http://www.facebook.com/event.php?eid=262095130495370

3 POINT AWARD
Programmer : Ruang MES 56
http://mes56.com/

Programme : Creative Project

Description :
3point Award adalah penghargaan yang
diberikan kepada 3 orang muda atas
konsistensinya di dalam aktivitas fotografi
kontemporer.

Tujuan 3point Award adalah mempromosikan
konsep dan kreatifitas fotografi kontemporer sebagai inspirasi untuk
generasi muda yang konsisten dengan fotografi sebagai mediumnya.

Genre
Contemporary Photography

Prize
3 orang yang terpilih berhak menjadi kurator dan juri terhormat untuk
memilih penerima 3point Award selanjutnya.

Konsep yang terpilih akan dipresentasikan/dipamerkan pencapaian akhirnya
kepada publik umum di ruang-ruang yang sesuai dengan kesepakatan
kuratorialnya. 



Application
3point Award terbuka untuk umum dengan batasan usia di bawah 30 tahun.
Pendaftaran hanya berlaku untuk perorangan.
Formulir pendaftaran resmi bisa diminta melalu email:
3point.award@gmail.com
Formulir pendaftaran dan dokumen lainnya bisa dikirim balik melalui email.

Schedule
Pendaftaran dibuka setiap tanggal 1 Januari sampai 30 Mei.
Juri akan mengumuman hasilnya setiap tanggal 1 Juni
Persiapan konsep dan pameran dimulai setiap bulan Juni – September
Pameran dibuka setiap bulan Oktober

Jury
2011 – Ruang MES 56

Curator
2011 – Angki Purbandono

Partners
Lembaga Indonesia Prancis http://www.lipjogja.co.id/
Kelas Pagi Yogyakarta http://kelaspagiyogyakarta.blogspot.com/

Contact
Semua informasi 3point Award 2011 bisa ditanyakan di:
Email: 3point.award@gmail.com
Phone: +62 817 915 1155 - curator

Artist | 3point Award 2011

DITO YUWONO
Project Description: Have We Met? merupakan sebuah dokumentasi tentang
muka yang berangkat dari permasalahan dimana ketika identitas lain seperti nama terlupa,
maka muka menjadi penyelamat dari keterlupaan. Muka menjadi identitas dasar yang lebih
susah terpengaruh oleh kehidupan sosial masyarakat, seperti nama yang memiliki beberapa
bentuk, tambahan, hingga pengubahan sesuai kebutuhan atau tuntutan tertentu.

Di saat yang bersamaan, kehadiran teknologi (kamera digital) saat ini memberikan
kemungkinan baru dalam mendokumentasi muka, sesuatu yang sebelum hadirnya kamera
digital cukup susah untuk diwujudkan. Teknologi seolah menjadi solusi atas keterbatasan
manusia, dalam hal ini kamera digital menjadi solusi atas keterbatasan ingatan manusia.

Dokumentasi muka berikut tidak saja diambil dari teman namun dari lingkungan terdekat
meliputi orang-orang yang kerap berada di lingkungan sekitar. Muka-muka orang yang akan
dikenali tanpa harus identitas lain. Muka sebagai identitas yang dapat berdiri sendiri.

Kita saling merekam muka, kita saling mengingat muka, dan tanpa sadar kita telah saling
mengenal tanpa harus berjabat tangan.

Bio: Dito Yuwono, Yogyakarta, 1985. Lulusan FISIP Komunikasi Universitas Atma Jaya
Yogyakarta. Memulai berbagai aktifitasnya dari jurnalis media online. Memulai aktifitas
fotografi sejak tahun 2008 sebagai jurnalis sekaligus fotografer majalah musik DAB
Magazine. Berangkat dari berbagai aktifitasnya tersebut, dia pun mulai melibatkan dirinya
dalam berbagai kegiatan seni, khususnya fotografi.

Menginjak tahun 2010, Dito Yuwono mulai menggeluti fotografi kontemporer. Pendekatan
tersebut dirasanya mampu memberikan keleluasaan dalam membicarakan hal-hal yang
lebih personal.

Beberapa kegiatan yang melibatkan karya fotografisnya adalah Indonesian Dramatic
Reading Festival I dan Java’s Machine: Family Chronicle (Jompet Kuswidananto Solo
Exhibition).

DONI MAULISTYA
Project Description: “I BELIEVE AN I-NOVEL IS THE CLOSEST FORM OF EXPRESSION TO
PHOTOGRAPHY” (Nobuyoshi Araki) , adalah satu dari sekian banyak statement yang
diyakinin oleh Doni Maulistya. Sebagian besar kerjanya berangkat dari hal remeh temeh dan
personal disekitarnya.

“SUDAH SAATNYA” adalah salah satu project yang berangkat dari kisah personalnya yang
hidup di dalam sebuah keluarga yang hiper komunal, dan keinginanya untuk terlepas dari
ketergantungan pada orang tua dan keluarganya.

Metode foto dokumentasi keluarga digunakan sebagai sebuah pendekatanya untuk
mengkonstruksi bingkai bahwa sudah saatnya seorang anak yang ingin membuat hidupnya
lebih “kaya” memutuskan keluar dari rumah untuk bebas secara mandiri dan terlepas dari
ketergantungan pada orang tua dan keluarganya. Keputusan itulah yang membuatnya
melayang diantara meingalkan apa yang sudah ada dan menuju apa yang belum ada.

Bio:
Doni Maulistya lahir di Yogyakarta, Indonesia 1987. Dia adalah seniman sangat muda sekali
yang memiliki hasrat pada seni visual dan visual storytelling. Hidup dan bekerja di
Yogyakarta, Indonesia dimana dia bekerja sebagai seniman dan fotografer lepas.
Memutuskan keluar dari Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta pada tahun 2008, lalu
terpilih sebagai partisipan pada Angkor Photography Worksop di Siem Reap – Kamboja
(2009) dan Foundry Photo Workshop, Istanbul – Turkey (2010).

Memulai dan Aktif berpameran fotografi dari tahun 2005. Bersama 7 fotografer muda pada
tahun 2010 membentuk Cephas Photo Forum, forum fotografi yang berfokus pada diskusi
aktifitas fotografi, dan secara aktif membantu menjalankan pendidikan fotografi gratis di
Kelas Pagi Yogyakata hingga tahun 2011.

Tahun 2011 adalah tahun awal baginya untuk menjajaki jalan pada dunia fotografi
kontemporer yang menjadi hasratnya pada dunia seni rupa.


SETO HARI WIBOWO
Project Description: Pada project ini saya melihat tentang bagaimana fungsi
dapur tidak hanya dimanfaatkan sebagai ruang persiapan memasak dan proses memasak
tapi juga sebagai fungsi yang lain.
Salah satu contoh, ketika saya di Bromo, dapur kerapkali menjadi fungsi tempat
bertemunya keluarga, teman atau siapa saja. Bagi masyarakat tradisional Jawa, dapur juga
biasa sebagai tempat menyimpan hewan ternak dan peralatan pertanian, bahkan pada
masyarakat pinggiran kota Jakarta, dapur melebur menjadi satu ruangan dengan ruang
interaksi dan tempat tinggal sebuah keluarga. Menurut saya, dapur tidak lagi sebagai aktifitas pemenuhan kebutuhan makan keluarga saja
tetapi sebagai ruang, dapur bisa menjadi fungsi yang lebih luas.
Dalam seri ini, saya ingin mengungkapkan bahwa sebuah “ruang” bisa menjadi simbol roda
ekonomi atau kelas sosialnya. Seolah-olah semuanya serba mungkin ditempatkan di mana
saja, dengan cara apapun.
Hampir disetiap perjalanan, saya melakukan riset tentang situasi-situasi dapur dengan
penekanan pada bentuk yang banal,repetisi dan benda-benda yang tidak pada tempatnya
untuk menghasilkan gambar yang sederhana, tidak terhalang dan tidak terpikat oleh
komposisi yang berlebihan.
Saya menggunakan media fotografi, sebagai alat bantu kedekatan saya dengan object-
object di depan saya. Teknologi fotografi memberi saya kekuatan untuk melampaui cara-
cara konvensional melihat dan memahami dan berkata,"Ini nyata,juga."
Bio:
Seto Hari Wibowo, Lahir di Madiun 30 Oktober 1981, Pernah kuliah di Institut Teknologi
Nasional-Malang jurusan Teknik Industri (1999-2005). Bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa
Fotografi bernama "FORMAT" tahun 2000, kemudian pada tahun 2003 Seto bersama
temannya mendirikan Insomnium-sebuah komunitas fotografi independen di Malang.

Pada tahun 2002 meraih penghargaan fotografi sebagai finalis "Lomba Foto Budaya &
Pariwisata" Departemen Kebudayaan Indonesia.

Dari tahun 2007 sampai 2011 Seto bekerja di Lembaga Perlindungan Orangutan sebagai
Fotografer dan Campaigner. Beberapa hasil karya selama bekerja untuk perlindungan
Orangutan dipublikasikan menjadi sebuah buku The Ape Crusaders, Sean Whyte,
Halsgrove Publishing, October 10, 2011, UK

Saat ini Seto aktif di Ruang Mes56 sebagai Assisten Program

Comments

Popular Posts