Presentasi Foto Juxta Position "Perfection is Imperfection"



2 Desember 2011 di Kelas Pagi Yogyakarta para fotografer yang ikut serta dalam pameran mempresentasikan hasil karyanya masing masing di hadapan penelis mereka masing-masing dan para pengunjung pameran yang kebetulan datang melihat.dengan kegiatan seperti ini diharapkan para fotografer lebih dapat mempertanggung jawabkan dan menjadikan kebiasaan di setiap pameran atas foto mereka masing masing.
Panelis yang hadir pada waktu presentasi adalah :


Yudha ( Kelas Pagi Jakarta )

Sebagian peserta Pameran dan teman teman KPY yang hadir.

Kesimpulan dari hasil presentasi beberapa foto tersebut dapat kami rangkum sebagai berikut :

1). Judul Foto : Jendela Dunia Kita

Fotografer : Romulus Alfianto
Masukan Teknis :
Komposisi subjek elemen [MacBook dan buku] kurang seimbang.
Bisa dipertimbangkan peletakkan lilin justru dibelakang [BG] sehingga akan tampak tidak terlalu dominan.
Tangkap / visualisasikan indikator batre low, dgn background buku dan lilin
Story / Konsep vs Visualisasi : masih harafiah (lugu)
Story yang ingin disampaikan :

Apple adalah sebuah representasi antara kecanggihan teknologi dan gaya hidup manusia saat ini. Dengan tinggal menggunakan aplikasi tertentu kita sudah dapat membaca, melihat dan mendengar berbagai macam media visual, audio ataupun audio visual. Namun kecanggihan teknologi tersebut menjadi kurang manis ketika kita kehilangan energi listrik. Dengan tidak adanya energy listrik, maka apple tidak akan dapat dioperasikan dan pada akhirnya format buku konservatif atau cetak yang mempunyai peran besar dalam pemborosan energy di dunia dapat tetap berfungsi walaupun listrik itu mati.




2). Judul Foto : "Habitat Mewah".


Fotografer : Nur ( thitut )
Masukan Teknis :
Cukup.
Story / Konsep vs Visualisasi : Riset yang baik, resourceful, elemen dalam subjek sangat bisa dipertanggungjawabkan.
- Tanaman Hydroponic
- Gelas Wine
- Air merah [syrup] + Es.
Story yang ingin disampaikan :
"Gelas bukan pada tempatnya menjadi habitat tumbuhan, tetapi di dalam gelaslah tumbuhan jadi terlihat lebih Sempurna."





3). Judul Foto : Diet


Fotografer : Firmansyah
Masukan Teknis :
Tidak ada. Sangat baik dalam problem solving.
Firman sebenarnya melakukan kesalahan setting kamera sat memotret. Kamera masih dalam settingan S [ Small ] Sehingga solusi penyelamatannya : Mentor [Aul Dony Maulistya ] menyarankan agar dicetak ukuran sebenarnya [ real size, sebesar apel ]
Solusi penyelamatan ini bukan hanya memecahkan:
masalah size, tapi justru juga memperkuat konsep: apel kecil di tengah frame besar, visualisasi yang sangat merepresentasikan Diet.
Story / Konsep vs Visualisasi :
Riset cukup meskipun jika Fotografer melakukan riset lebih dalam, Fotografer akan bisa mempertanggung jawabkan karyanya jauh lebih baik.
Mengapa Apel ? Hanya karena bentuknya bagus ?
Riset Firman tentang diet dan menu diet memang belum cukup lengkap namun faktanya apel memang sering dipakai sebagai salah satu menu diet dan mengandung antioksidan yang tinggi
Elemen dalam subjek bisa dipertanggungjawabkan.
- Apel
- Daging.




4). Judul Foto : Terus saja

Fotografer : Rosyid
Masukan Teknis :
Cukup.
Story / Konsep vs Visualisasi :
Awalnya disarankan oleh mentor [Berto Gesit] untuk menabrakkan dengan model cantik yang refleksinya nampak pada filter yang pecah, tapi Rosyid menganggap memotret model bukanlah sebuah decisive moment karena bisa dipersiapkan sebelumnya.
Subjek yang dipilih : Cecak kawin menurut Rosyid mewakili decisive moment tersebut. Meskipun Panelis lain [Pak Layung ] menganggap itu bukanlah sebuah subjek / moment yang menarik untuk difoto.




5). Judul Foto : Stay Cool and beautiful

Fotografer : Ananda Aseh Giriyanto
Masukan Teknis :
Cukup.
Story / Konsep vs Visualisasi :
Masukan dari panelis [Arfi] akan lebih menarik jika wardrobe dipilih kemben batik untuk menabrakkan antara keanggunan wanita dengan outfit tradisional jawa dan Tato model.
Pemilihan lokasi juga sempat dipertanyakan oleh panelis [Pak Layung] mengapa dipilih Parangkusumo ? namun akhirnya disadari bersama bahwa justru Parangkusumo mewakili lokasi yang cukup iconic sebagai lokasi beauty shot, dan disini Fotografer justru Fotografer memilih untuk lokasi juxta [bukan beauty shot].
Masukan dari panelis lain [Yudha - Kelas Pagi Jakarta ] visualisasi juxta juga dapat diperkuat dengan pilihan wardrobe tradisional jawa, lokasi Keraton / memiliki unsur visual tradisional yang kuat.
Riset cukup.
Baik secara kebetulan/terkonsep,namun elemen dalam subjek cukup bisa dipertanggungjawabkan.
- Lokasi pemotretan
- Tato, NON Beauty Shot
Story yang ingin disampaikan :
jaman dulu tatto di anggap sebagai sesuatu yang negatif,dimana dulu tatto di simbolkan dari sesuatu yang keras dan jahat.dalam artian tatto adalah tidak sempurna.tetai kenyataan jama era globalisasi bahwa mengatakan tatto sekarang adalah sudah menjadi sesuatu yang stylis dan itu di jadikan sebagai penunjang gaya mereka.




6). Judul Foto : Chaos in the Kitchen

Fotografer : Andri Susilo Putro
Masukan Teknis :
Cukup.
Story / Konsep vs Visualisasi :
Riset kurang
Elemen pada subjek belum bisa dipertanggungjawabkan.
Subjek dan elemen pendukung tidak juxta, dan relatif berlebihan :
- Adanya Elemen tambahan sepatu di meja [ sementara kedua model bersepatu ]
- Model justru seolah pose ke arah kamera / minta tolong ke arah kamera.
- Riset tentang kehidupan punk kurang. Punk pada
intinya melawan kemapanan pemerintahan dan sistem, bukan asal anti segala bentuk kemapanan. Dari pengalaman riset salah satu panelis [Yudha KPJ] Punk tidak pernah melakukan kekerasan pada lawan jenis.
Setelah Panelis cukup mencecar fotografer atas semua kelemahan visualisasinya pada Presentasi foto ini, maka Fotografer mengakui dan menjelaskan beberapa anomali, dan situasi yang membuat Sesi foto sangat kurang maksimal sehingga justru berakibat kegagalan produksi. Hal ini juga menjadi pelajaran setiap fotografer untuk memastikan semua elemen pendukung, model, lokasi semuanya siap dalam produksi.
Story yang ingin disampaikan :
Ketika kita berada di dapur, dengan kitchen set yg mewah, yg sewajarnya kita lakukan mungkin adalah memasak, menyiapkan makanan, atau sekedar bersih-bersih. Apa yang terjadi ketika sepasang anak punk yang berada di dapur tersebut, tidak bisa terbayangkan mungkin. Mereka punya sebuah idealisme dan attitude sendiri, anti-kemapanan. dimana semua nya tidak harus rapi, bersih dan teratur. Anti kemapanan sendiri jg berarti menolak pola-pola yang dianggap mapan oleh kebanyakan orang atau melakukan hal yang beda dan berfikir "out of the box" / kreatif juga merupakan anti kemapanan.





7). Judul Foto : Tak Hanya Indah...

Fotografer : Agus Hilda Laksana [Bean]
Masukan Teknis :
Cukup.
Story / konsep VS Visualisasi :
Riset kurang, elemen dalam subjek kurang bisa dipertanggungjawabkan.
Masukan dan kritik dari panelis untuk foto ini :
Wardrobe model sangat nanggung, kurang 'high fashion'
Visualisasi Juxta akan lebih terasa dengan pilihan wardrobe dan make-up Pesta [gaun dan make-up ]
Elemen pendukung seperti sayuran justru ada dalam tas yang juga merupakan representasi visual dari 'high fashion'.
Juxta untuk konsep semacam ini bisa divisualisasikan dengan setting lain sehingga output tidak terlalu lugu seperti :
Model dengan wardrobe pakaian formal kantor / kerja dengan set di ruang / meja kerja dengan sayuran di tas kerjanya / elemen pendukung lain.
Story yang ingin disampaikan :
setinggi apapun 'kelas'nya, mereka tetaplah wanita yang selalu berurusan dengan wilayah dapur. Dan itu yang membuat mereka tak hanya indah, bahkan nyaris sempurna.




8). Judul Foto : Gadis setengah paru ??

Fotografer : Andwi Valentine
Masukan Teknis :
Kemampuan teknis Lighting sangat kurang, terutama untuk produksi foto fashion
Story / Konsep vs Visualisasi :
Cukup baik, hanya saja dengan adanya elemen tambahan pada foto kedua [elemen : foto x-ray pada BG] justru berlebihan, karena Rokok [dan memotong paru ] sudah menjadi elemen visual penguat yang cukup.
Kritik dari mentor [Babe Eed dan Bunda Dewi]:
Penguasaan lighting Andwi kurang, dengan keinginan fotografer memproduksi foto fashion dengan beberapa elemen simbolisasi, penguasaan teknis lighting sangat diperlukan. Dan ini cukup merepotkan mentor.
Maka datanglah ke kelas Lighting KPY, belajar tekun, jangan malu bertanya. Disarankan Andwi mengulang lagi materi lighting di Kelas Pagi.


9). Judul : Be-Autism.  


Fotografer : Muhammad Safrudin W

Masukan Teknis :
Pada tataran komposisi, peletakan subjek, model, pemilihan warna, wardrobe sudah bagus.
Namun riset tentang autis kurang.
- Adanya Interaksi [mata] model dengan kamera justru memperlihatkan kurangnya riset.
- Adanya elemen pendukung [ buku ] memperkuat kesan bahwa fotografer tidak [kurang] mampu memvisualisasikan Autism melalui modelnya.




10). Judul : Ide bagus, boleh boros.
Fotografer : Kris Budi Halim
Masukan Teknis :
Banyaknya elemen hasil Digital Imaging [visualisasi angka untuk merepresentasikan waktu / jam], apakah masih relevan untuk karya fotografis ? boleh masuk karya fotografis, namun bisa juga sebagai karya grafis.
Story / Konsep vs Visualisasi :
Riset yang kuat, namun justru persepsi juxta yang belum pas. Sehingga mesikpun secara visual bertabrakan, namun esensi story yang ingin disampaikan justru tidak juxta.
Story yang ingin disampaikan :

Seperti lampu pijar yang membuang 90% energi listrik menjadi panas dan hanya 10% menjadi cahaya, namun penemuan itu tetaplah berdampak besar bagi kehidupan manusia.

11). Judul : Distorted Gravity

Fotografer : Taufiq Marzuki
Masukan Teknis :
overall baik hanya, namun pemilihan Lighting yang kurang tepat.
Story / Konsep vs Visualisasi :
Kesan foto bagi sebagian penonton malah seperti foto
hantu, bukan juxta. Alangkah baiknya jika lighting dan background cerah, menggambarkan harapan orang yang lumpuh menentang gravitasi [ penegasan visual mendorong kursi rodanya sendiri keatas ].
Masukan dari Panelis [Pak Layung], alangkah baiknya jika elemen disederhanakan, kursi roda, melayang, dan tangga, elemen lain dihilangkan karena tanpa itupun pesan sudah tersampaikan.
Penyederhanaan elemen antara lain bisa dengan subject lebih zoom-in, Cropping tight dll.
Sebuah karya Foto bisa melelahkan penikmatnya, justru dengan terlalu banyaknya elemen pendukung.
Story yang ingin disampaikan :

Kita tidak bisa lepas dari sebuah peraturan, peraturan di dalam keluarga, masyarakat, negara, dan juga peraturan alam atau sering kita sebut "hukum alam". Hukum alam ini yang mengatur semua gerak gerik alam semesta, air megalir dari lereng ke hulu, semua benda di bumi jatuh menurut hukum gravitasi, tapi kita tidak akan pernah bisa benar-benar mengerti bila kita tidak pernah belajar untuk melanggarnya.

Comments

  1. selamat ya rekan -rekan atas prestasi nya bisa pameran.........

    maju terus

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts