Pameran Tunggal ANTON ISMAEL - RUMAH - Ruci Art Space JKT 1 April - 1 Mei 2016




Pameran Tunggal Anton Ismael " Rumah "  


kurator : Ade Darmawan
  
 Pembukaan : 1 April 2016 Pk. 1900
Galeri Buka : Selasa s.d Minggu, 11.00 - 19.00
Pameran berlangsung : s.d 15 Mei 2016
lokasi : Ruci Art Space, Jalan Suryo No. 49, Senopati,
Jakarta Selatan 

Tautan lain : 


---------------------------------------------------------------------------------------------



hi teman - teman,
Makasih teman teman yang sudah datang ke pameran saya, bagi teman-teman yang belum sempat dan gak sempat datang, saya akan menceritakan tentang cerita "RUMAH" ini di page FB saya dan IG saya @antonismael_ 



recap dan cerita di mulai.....



Cerita "Rumah" (01)
Kenapa Rumah?
Saya seorang guru, telah mengajar selama 10 thn. Proses mengajar membuat saya belajar dan melihat lebih Dalam, Ternyata kita semua memiliki Cara pandang Yg ter pattern/teratur. Putih adalah baik, bunga adalah Wangi, salah adalah kegagalan, mungkin itu sebagian besar persepsi kita.


Bicara tentang persepsi/Cara pandang Jika kita tarik ke Awal mulanya, dimana sih kita mempelajari semua itu pada awalnya? Dimana kamu pertama Kali menangis? Dimana kamu pertama Kali diperkenalkan adanya agama?


Saya tidak memilih utk beragama Tetapi orang tua saya memberikan saya agama, hingga Sekarang saya memilikinya, walaupun kadang mempertanyakannya.
Di rumah pertama Kali kita belajar melihat Dan menilai. Berapa penting Peran Rumah ini sebagai Cikal bakal tradisi Dan kebudayaan yg kita atur hingga Sekarang hingga tautannya sampai Sekarang menjadikan Kamu siapa diri kamu Saat ini.

Kalo kamu diberi kesempatan membuat sebuah Rumah..doktrin apa yg Akan kamu tanamkan ke anak Anakmu? Bagaimana Kamu melestarikan pemahaman hidupmu kepada mereka?


Bekal apa yg Akan diberikan kepada mereka?
Petuah Apa yg Akan kamu berikan kepada mereka?
Apakah kamu ingin Anakmu menjadi dirimu?
Dan apakah kamu tau? Bahwa kamu adalah Gambaran rumahmu? Gambaran orang tuamu? Dan segala yg melekat Di dirimu selama ini.
@ruci.art 
1st April 2016 till 15 may 2016
11am till 7 pm





cerita rumah (02)

cerita sebelumnya mengatakan bagaimana rumahmu membentuk siapa dirimu. Rumah disini bukan hanya sebuah bentuk bangunan dengan tembok, pagar, lukisan, kamar, meja makan dan sebagainya, tetapi kita melihat rumah juga sebagai basis pola asuhmu, dimana kamu dibesarkan, bisa saja di sebuah rumah, asrama, komunitas, ataupun jalanan sekalipun. RUMAH membentukmu. 

Kamu ingin membentuk rumahmu seperti apa? Saya bukan seorang arsitek, tetapi saya percaya batas antara 1 ruang dengan ruang lainnya seharusnya dipikirkan bagaimana ruang/batas itu bisa sangat mempengaruhi bagaimana hubungan antara satu anggota keluarga dan lainnya. kata kawan saya, kamar orang tua harus di depan. 

Lho kenapa? 
soalnya agar orang tua bisa tau jika anaknya datang atau pergi. orang tua dapat menyapa anak mereka. Letak ruang disini jelas berpengaruh dalam hal kontrol. 

Bukan hanya ruang…pajangan apa yang akan kamu tempel di tembokmu? 
apakah kamu akan menyusun gelas gelas kristal di lemari lagi? 
apakah kamu akan menaruh harimau sumatra yang dikeraskan atau penyu raksasa di ruang tamu? apakah kamu akan menaruh piala-piala penghargaanmu? 
apakah kamu akan memajang foto orang tuamu? 
dan apakah kamu akan memasang lukisan gunung di tembok rumahmu? 
Apakah berbeda sifat manusia yang hidup dalam batas..dan mereka yang hidup tanpa batas..

aku ingin hidup tanpa batas.


Cerita Rumah (03)

Sebagai seorang guru, ketakutan saya adalah “tidak bisa berubah”

semakin saya tua semakin saya menjadi guci yang keras. Itu ketakutan saya, pada saat jaman berubah saya tidak bisa berubah itu ketakutan saya dan jika jaman berusaha merubah saya, maka saya akan pecah.


Saya ingin selalu dapat dibentuk seperti anak kecil. maka dari itu, saya selalu bilang ke murid murid saya, “Rendahkan saya serendah-rendahnya dan kristisi saya sekeras-kerasnya, agar saya selalu siap dengan pergantian jaman.”

saya tidak ingin menjadi orang tua yang menyebalkan, saya ingin dapat selalu bersama mendapingi anak-anakku, murid-muridku, dan kawan-kawanku dari segala lintas jaman. Saya ingin selalu mempertanyakan segala hal. bukan hanya aman dan nyaman di jawaban yang belum tentu pasti.
Pernahkah kamu mendengan cerita orang tuamu tentang pendahulumu, bagaimana mereka bekerja dan berjuang hidup demi kita. Dulu..ya dulu…terima kasih atas apa yang telah kau berikan..tapi saat ini adalah jamanku..

Orang tua:
“Begini anak muda, kepercayaan itu dilahirkan, dibentuk, bukan terlahir.”


Anak:
“Dan akupun percaya bahwa aku harus melawan pemahamanmu, karena kepercayaan ini diwariskan darimu.”



Cerita Rumah (04)

Perjalanan saya ke rumah-rumah di jawa tengah menginspirasi saya. Rumah untuk sebagian teman-teman yang sudah punya rumah, adalah lambang status juga, Rumah diatur dan ditata. Rumah-rumah yang saya kunjungi ini memiliki sebuah pattern yang sama. Ruang tamu, ruang makan, kamar mandi..yang saya perhatikan adalah ruang tamu, seperti sebuah museum yang isinya artefak keluarga yang di rawat dan juga benda-benda yang menunjukkan status mereka. Mulai dari foto keluarga, piala-piala prestasi salah satu anggota keluarga mereka, gelas kristal, sampai lukisan pemandangan.

Apakah kamu pernah bertanya..benda-benda tersebut adalah sesuatu pengharapan kita ke anak cucu kita? apakah kamu pernah bertanya..benda-benda itu merepresentasikan petuah-petuah yang kita ucapkan ke anak atau murid kita? Nak..kejarlah prestasimu..Prestasi siapa? prestasi orang tua?

Sebagai guru, saya sangat percaya setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Apa yang terbaik untuk saya belum tentu terbaik untuk anakku ataupun muridku, Mungkin saya berhasil dengan kerajinan saya..tetapi sangat mungkin, anakku akan lebih berhasil dengan kebodohan dan kenaifannya. saya percaya sebuah kualitas hidup diresapi tiap manusia dengan pengertiannya masing-masing.

Jadi..apakah kita akan membiarkan anak kita melukis gunung dan sawahnya lagi? dari generasi ke generasi? atau membiarkan mereka melukis tai, bangsat, keleawar, metromini, atau apalah..
biarkan mereka menentukan sikapnya sendiri. Biarkan mereka, lestarikan mereka menjadi sosok yang berkembang biak dan kuat!


Anak:
“bu, aku gak mau sekolah, percuma saya sekolah, gurunya goblok semua!”


Jangan pernah menggambar Gunung dan sawah lagi!

[ bersambung ... ]











Comments

Popular Posts