Festival Payung Lukis Tradisional | NGUDI RAHAYU JUWIRING



Jadwal Acara sudah keluar kawans !!!

EVENT tanggal 13 - 14 Mei 2017 di 
Kelas Pagi  Yogyakarta Creative Space
silakan check update info di : 

http://www.kelaspagiyogyakarta.com/2017/05/festival-payung-lukis-tradisional.html

---------



Festival Payung Lukis Tradisional
NGUDI RAHAYU JUWIRING

Sejarah
Payung Lukis Juwiring memiliki sejarah panjang mengenai payung. Payung merupakan sejarah penting dalam kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Jawa, seperti Kerajaan Demak, Kerajaan Mataram dan Kerajaan Majapahit. Simbol payung sangat melekat bagi kerajaan-kerajaan. Payung dianggap sebagai simbol kekuatan. Biasanya payung ini diletakkan berdampingan dengan tombak. Payung memiliki simbol mengayomi, sedangkan tombak memiliki simbol kekuatan.

Di Desa Juwiring, pada tahun 1940-1960, kerangka payung dijual. Ini menyerupai aktivitas jual beli di pasar payung. Banyak orang melakukan transaksi jual beli kerangka-kerangka payung yang belum terakit. Pasar payung ini beroperasi sebahis subuh sekitar pukul 04.00 – 07.00 WIB.

Payung Juwiring pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 1960-an sampai 1980-an. Dahulu industri Payung hanya ada di Juwiring, dengan bahan dasar kertas (istilah kertas payung digunakan untuk merujuk pada jenis kertas yang mirip dengan bahan dasar kertas payung).

Bahan kayu yang digunakan antara lain adalah bambu (pring), dan kayu kenanga. Bahan baku kayu ini diperoleh dari lereng gunung. Jika bahan baku habis, biasanya dipasok dari Desa Pedan.

Visi:
- Menjadi salah satu pelestari budaya payung lukis terbesar

Misi:
- Merangkul seniman payung lukis Juwiring untuk melestarikan budaya payung lukis
- Menjadi salah satu tujuan wisata edukasi payung lukis
- Mengkomunikasikan nilai budaya payung lukis sebagai peninggalan sejarah indonesia
- Mengenalkan kekhasan multikultur Indonesia melalui payung lukis Juwiring
- Mengenalkan budaya payung lukis Juwuring ke dunia internasional

Payung Lukis Ngudi Rahayu
Payung Lukis Ngudi Rahayu berada di Dukuh Gumantar, Desa Tanjung, Kecamatan Juwing. Ngudi Yakur (48 tahun) adalah pendiri usaha Payung Lukis Ngudi Rahayu. Ngadi mengawali membuat Payung pada tahun 1998. Hal ini diawali dari pengalaman Ngadi menjadi buruh payung. Simbah (kakek, nenek), bapak – ibu (orang tua) juga pengjarin payung di Desa Juwiring. Payung ini kemudian dinamai payung tradisional, hal ini dikarenakan ada produk payung pabrikan yang diproduksi secara masal.  


Nama Payung Lukis Ngudi Rahayu memiliki arti panjang. Payung lukis karena jenis payung unggulan ada pada produk lukisnya, sedangkan Ngudi berasal dari nama Ngadi (dalam bahasa jawa artinya mencari) dan Rahayu (dalam bahasa jawa artinya selamat) adalah nama istri dari Bapak Ngadi.

visual report cek : https://goo.gl/32z2rD

Comments

Popular Posts