The Typists a Performance Art | 14 July 2017






The Typists
a Performance Art

Sebuah Ujian Tugas Akhir 
Mahasiswa Jurusan Teater Fak. Seni Pertunjukan
Institut Seni Indonesia Yogyakarta Angkatan 2013
Jumat,  14 Juli 2017
Pk 15.00 - 23.00
di Kelas Pagi Yogyakarta Creative Space
JL Brig Jend Katamso
Prawirodijan GM II/1226
Gondomanan - Yogyakarta


Visual Report FB Album KPY : https://goo.gl/iXTn6v
---------

Adorebel bersama Flying Balloons Puppet dengan gagah akan menampilkan sebuah pementasan dengan judul The Typists. Acara kali ini akan disuguhkan dengan balutan performatif dalam ruang alternatif. Tentunya kami juga mengundang kawan-kawan kolektif untuk ikut menyemarakan pesta urakan yang kami adakan.
.
.
Turut bersanding bersama kami @de_guska @paperplanebookstore @pm.project @aartonmagic @dulstore @sanggarkinanti @alvin&i (bdg) @berandaillona @urart.id @_ayude dan @eka_novriann
.
.
Acara ini juga didukung oleh @Kelaspagiyogya @ayamsorii @kedaikopikantin
Dan media partner @PYY @infojogja @junksradio_ (bdg) @folksymagazine @giginyala @gigsjogja @grace.artevent @majalahcobra
.
.
So jangan terlalu deep..
Mari berdansa. Yeah

---------

ADOREBEL

Adorebel adalah sebuah kelompok yang bergerak di jalur performance art dan eksperimental performing. Kelompok yang berangkat dengan disiplin teater ini dibentuk pada tahun 2014. Sebagian anggota adalah mahasiswa jurusan  teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma. Kelompok ini mendekati berbagai macam bidang kesenian yang mengarahkan pada satu bentuk utuh. Hal tersebeut dijadikan sebagai ruang eksperimen dalam berkarya. Beberapa karya yang sudah lahir dari Adorebel adalah Topeng Monyet (2015), Insect Instinct (2016), Koalisi Abstrak (2016), Jujur Bangsat! (2017) dan sebagainya


Naskah The Typists karya Murray Schisgal merupakan satu fenomena yang menarik untuk mempelajari manusia. The Typist menjelaskan cara pandangnya tentang eksistensi melalui tokoh Paul dan Sylvia yang bekerja di perusahaan sebagai kerani. Paul dan Sylvia menghabiskan seluruh hidupnya untuk bekerja sebagai pegawai kantor. Namun, diusia 50 tahun barulah mereka berdua dapat menghayati hidup dan pekerjaan yang mereka hayati.

Kebanyakan manusia tidak memiliki perkembangan kesadaran diri yang sehat di zaman modern ini. Eksistensi manusia modern telah di objektivikasi secara mekanik (manusia menjadi objek yang dengan mudah dapat dikendalikan). Mayoritas manusia modern tidak mengetahui keinginannya yang sebenarnya, melainkan hanya mengejar keinginan untuk menyerupai orang lain. Manusia modern cenderung mencari tokoh untuk ditiru, dengan kata lain meng-objekan diri sendiri. Manusia dengan kesadaran diri yang rendah tidak akan menyadari bahwa dirinya telah menjadi objek dan mengalami ketidakberadaan (nothingness). Hidup seakan baik-baik saja, tetapi sebenarnya manusia modern tanpa kesadaran merasakan kehampaan, kesepian dan kecemasan. Namun tidak tahu cara mengatasinya.

THE TYPISTS
Karya Murray Schisgal
Sinopsis :
Paul Cunningham seorang mahasiswa hukum mendapat pekerjaan sebagai kerani/pegawai kantor pada sebuah perusahaan pemasaran. Paul bertemu dengan Sylvia Payton, seorang wanita lajang yang menjadi pengawas perusahaan dan memiliki kedekatan dengan atasannya. Sylvia banyak membantu Paul agar dapat mengerti bagaimana mengetik dengan benar. Selain karena memang itu adalah tanggung jawab Sylvia sebagai pengawas, ternyata Sylvia juga mengaharapkan cinta dari Paul. Harapan Sylvia pupus lantaran Paul menyinggung kebiasaan istri Paul yang hanya suka menonton TV. Begitu banyak kesalahpahaman antara Paul dan Sylvia. Bahkan terjadi pula kesalahpahaman dan harapan yang pupus terhadap cita-cita pribadi masing-masing. Semua itu terjadi karena perbedaan latar belakang dan pergeseran usia yang disertai perubahan penyikapan terhadap diri dan dunia. Semua perbincangan yang pada awalnya hanya untuk saling mengenal berubah menjadi perbincangan tentang bagaimana sebenarnya kehidupan. Selama 50 tahun mereka bekerja sebagai kerani/pegawai kantor yang paa akhirnya mengerti bagaimana cara menghadapi dunia dan diri sendiri.

Dalam naskah The Typist, cerita berlatar di sebuah kantor yang terletak di pusat kota. Area permainan tokoh pada naskah hanya berkutat di ruang kantor kedua tokoh, Paul dan Sylvia. Dari latar belakang  dan sinopsis yang sudah dituliskan di atas, konsep pertunjukanpun dikembangkan :

1. Pemilihan lokasi pertunjukan di ruang galeri. Karena seni pertunjukan, khususnya teater, yang masih banyak dipahami bahwa panggung adalah suatu keharusan yang di-adakan terlalu membatasi gagasan-gagasan pengkarya yang menumpuk atas interpretasi pada naskah The Typists. Maka diputuskanlah galeri sebagai ruang alternatif pertunjukan.

2. Mengahadirkan bentuk dari keadaan luar kantor kedua tokoh.  Maka di luar wilayah permainan yang sudah dibatasi akan dihadirkan beberapa aspek pendukung seperti foodcourt dan beberapa instalasi seni yang akan memperkuat pertunjukan. Kali ini penonton tidak akan dipaksa duduk menghadap pertunjukan, tetapi hanya beberapa kursi dan meja dihadirkan secukupnya. Penonton yang tidak mendapat tempat duduk, berdiri di ruang-ruang yang telah disediakan.

3. Acara akan dimulai jauh sebelum pertunjukan The Typists berlangsung. Karena diluar area pertunjukan dan foodcourt, akan dihadirkan sebuah panggung kecil untuk beberapa penampilan musik yang tampil sebelum dan sesudah pertunjukan The Typists.
Update info : www.kelaspagiyogyakarta.com

Visual Report FB Album KPY : https://goo.gl/iXTn6v


Comments

Popular Posts